Kamis, 02 Mei 2013

SIKAP SOPAN SANTUN


Banyak pendapat menyatakan anak muda sekarang kurang menghargai sesamanya, penghormatan kepada orang yang lebih tua dan empati kepada yang menderita dinilai menipis. Salah satu contohnya yang mudah dilihat adalah membiarkan orang tua, perempuan hamil atau ibu yang sedang menggendong anaknya berdiri, sementara anak muda memilih tetap duduk di kursi dalam angkutan umum. Benarkah itu?
Iya, memang tak dapat dipungkiri, seiring dengan perkembangan zaman, tingkah laku para remaja kian berubah dari waktu ke waktu. Rasa hormat terhadap orang yang lebih tua secara terang-terangan sering kali tak ditunjukkan. Datangnya kebudayaan dari barat sangat mempengaruhi nilai-nilai tradisional bangsa Indonesia, sehingga semakin lama nilai tradisional Negara kita sendiri semakin pudar. Para remaja Indonesia kian mengikuti dan mencontoh kebudayaan luar negeri dan melupakan nilai-nilai tradisional Negara sendiri, seperti contohnya kesopanan.

Sopan santun, atau juga dikenal sebagai tata krama, merupakan salah satu ciri khas dari masyarakat Indonesia. Sejak dahulu, bangsa Indonesia dikenal dengan keramahannya, kesopanannya, serta adat istiadat yg dijunjung tinggi. Namun, apabila kita berkaca pada kehidupan bangsa saat ini, sungguh ironis sekali dimana banyak sekali pergeseran yang dilakukan oleh anak- anak, remaja mengenai budaya sopan santun ini. Di majalah, televisi, internet, tak jarang orang berani melakukan perilaku yang sebenarnya dianggap tidak sopan, namun sudah dianggap biasa.
Secara tidak langsung dengan kurangnya kita bersopan santun dan bertatakrama, jati diri kita sebagai bangsa indonesia sudah mulai luntur. Inilah masalah besar yang timbul dari hal sepele, perkara yang seharusnya kitaperhatikan sejak kita masih kecil, hal yang seharusnya diajarkan oleh para orang tua. Memang, masih banyak orang dari bangsa ini yang masih menjunjung kesopanan dan tatakrama, tetapi lebih banyak lagi orang-orang yang telah melupakan tentang tatakrama dan sopan santun tersebut. Inilah persoalan yang mendasar yang menjadi permasalahan bangsa indonesia saat ini. “Krisis jati diri” mungkin itu kata yang tepat untuk menyebutkan situasi bangsa Indonesia saat ini. Sebenarnya kata itu sangat menyakitkan hati bagi oarang-orang yang mau berfikir. Bangsa ini merupakan bangsa yang berbudaya , namun bangsa ini kini telah kehilangan jatu dirinya. Bangsa yang duluhebat karena budayanya, kini telah rapuh dengan sendirinya. Persoalan inilah yang menimbulkan masalah yang lebih besar dan mengerikan.

Pada dasarnya kita harus sopan dimana saja, kapan saja dan dalam kondisi apapun. Apalagi kita hidup dalam budaya Timur yang sarat akan nilai-nilai kesopanan, sehingga seharusnya kita berpatokan dalam budaya timur dan berpedoman pada sopan santun ala timur. Sopan santun itu bukan warisan semata dari nenek moyang, lebih dari itu, dia sudah menjadi kepribadian kita. Memang kadar kesopanan yang berlaku dalam setiap masyarakat berbeda–beda, tergantung dari kondisi sosial setempat. Dan permasalahan ini sangat komplek karena berkaitan dengan faktor internal dan eksternal yang menyebabnya lunturnya nilai sopan santun.
Faktor eksternal terealisasi dalam kondisi sekarang yang secara realita kebudayaan terus berubah karena masuknya budaya barat yang akan sulit mempertahankan kesopanan disemua keadaan ataupun disemua tempat. Perubahan tersebut mengalami dekadensi karena berbedanya kebudayaan barat dengan kebudayaan kita. Misalnya saja sopan santun dalam tutur kata. Di barat, anak-anak yang sudah dewasa biasanya memanggil orang tuanya dengan sebutan nama, tetapi di Indonesia sendiri panggilan tersebut sangat tidak sopan karena orang tua umurnya lebih tua dari kita dan kita harus memanggilnya bapak ataupun ibu. Kemudian sopan santun dalam berpakaian, diluar negeri orang yang berpakaian bikini dipantai bagi mereka wajar. Tapi bagi kita berpakaian seperti itu sangat tidak sopan karena dianggap tidak sesuai dengan norma kesopanan. Selanjutnya Sopan santun dalam bergaul, dibarat jika kita bertemu teman yang berlawanan jenis kita boleh mencium bibirnya, tetapi di Indonesia hal tersebut sangat bertentangan dengan kesusilaan. Oleh karena kebudayaan yang masuk tidak tersaring sepenuhnya menyebabkan lunturnya sopan santun.
Sedangkan faktor internalnya ada pada diri sendiri, keluarga, lingkungan tempat nongkrong, lingkungan sekolah, ataupun media massa. Pengetahuan tentang sopan santun yang didapat disekolah mungkin sudah cukup tapi dilingkungan keluarga ataupun tempat tongkrongan dan media massa kurang mendukung tindakan sopan disemua tempat ataupun sebaliknya, sehingga membuat tindakan sopan yang dilakukan oleh anak-anak atau pun remaja hanya dalam kondisi tertentu. Misalnya penyebutan nama bagi yang umurnya lebih tua masih dianggap tidak sopan sehingga mereka memanggil mas, bang, aa, ataupun yang lain. Sedangkan dalam berpakaian ataupun yang lain kurang diperhatikan. Kita sendiri tak memungkiri keadaan tersebut , kondisi lingkungan yang kurang peduli terhadap kesopanan, sehingga akhirnya pada saat-saat tertentu saja kita sopan. Seperti disekolah, ditempat kuliah, ataupun di tempat-tempat formal yang lainnya. Keadaan ini seharusnya jangan sampai terjadi karena lama kelamaan akan menimbulkan hilangnya kebudayaan kita dan mungkin akhirnya kita tidak mempunyai kebudayaan sendiri.

Fakta lain yang menunjukkan menurunnya tingkat kesopanan remaja di Indonesia adahal seperti halnya zaman dahulu, para remaja sangatlah sopan terhadap orang yang lebih tua. Mereka harus berlutut atau dalam bahasa jawa “sungkem” jika sedang berhadapan dengan orang yang lebih tua. Para remaja sangat hormat dan tunduk kepada orang tua dan hal tersebut membuktikan bahwa para remaja sangatlah sopan terhadap orang tua. Tetapi sangatlah berbeda dengan zaman sekarang. Kebanyakan remaja berlaku tidak sopan terhadap orang yang lebih tua. Melawan ketika dinasihati, memotong pembicaraan, membiarkan berdiri sedangkan ia tetap memilih duduk dikursi dalam angkutan umum, dan masih banyak lagi lainnya.

Melihat kondisi demikian, agaknya tepat jika orang tua ikut berperan dalam pembentukan etika pada anak. Dan orang tua pula dituntut untuk mengajarkan nilai-nilai tersebut. Namun mengajarkan etika tidak bisa dilakukan hanya satu hari. Hal ini membutuhkan proses yang cukup panjang dan haris dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan. Hal tersebut adalah suatu langkah awal untik membentuk suatu generasi yang sadar diri terhadap tatakrama dan sopan santun.

Pendidikan karakter juga harus terus diupayakan sebagai pengganti dari konsep Pendidikan Moral Pancasila (PMP) yang kini telah tiada dan hanya tinggal menjadi sebuah nama dalam perjalanan sejarah masa lalu. Pengertian karakter yang banyak dikaitkan dengan pengertian budi pekerti, akhlak mulia, moral, dan bahkan dengan kecerdasan ganda (multiple intelligence) kiranya bisa membantu dalam membentuk norma kesopanan pada anak. Hal ini Mengingat lingkungan pendidikan merupakan tempat di mana waktu banyak dihabiskan maka perannya juga tidak boleh dikecilkan. Sayangnya, pendidikan budaya di lingkungan sekolah sejauh ini belum bisa mencapai tujuan utamanya. Pendidikan bahasa Jawa hanya mengajarkan tutur bahasa Jawa. Seharusnya, pengajaran tentang kebudayaan Jawa yang berkaitan dengan budi pekerti dan kepribadian juga diajarkan. Perkembangan zaman saat ini merupakan pemicu dari lambatnya pemahaman budaya masyarakat termasuk pendidik. Selain itu, secara disiplin ilmu mereka juga tidak paham tentang budaya sebenarnya. Padahal pendidikan karakter yang selama ini digemborkan dalam sistem pendidikan, sangat erat kaitannya dengan kearifan lokal, termasuk budaya dan bahasa Jawa.
Nilai-nilai tradisional sebenarnya sangatlah penting bagi remaja-remaja itu sendiri. Nilai-nilai kesopanan yang dibawa remaja-remaja Indonesia akan memberi dampak positif bagi mereka yang membawanya. Remaja-remaja yang menjaga kesopanan di mana saja dan terhadap siapa saja akan dinilai lebih oleh orang lain dan hal tersebut menjadikan image yang bagus bagi remaja itu sendiri. Menjaga kesopanan juga menjanjikan masa depan yang lebih baik karena orang-orang akan menganggap kita tinggi dan bermartabat.
Nilai-nilai tradisional terutama kesopanan harus tetap dijaga para remaja Indonesia sehingga tidak hilang seiring dengan berkembangnya zaman. Nilai-nilai kesopanan sangatlah penting dalam hidup bermasyarakat dan bersosialisasi dengan orang banyak sehingga orang lain juga dapat menghormati kita sebagaimana kita telah menjaga kesopanan dikalangan orang banyak. Dengan menjaga nilai-nilai kesopanan kita, para remaja yang disebut-sebut sebagai penerus bangsa, juga dapat memajukan bangsa Indonesia dengan menjaga nilai-nilai tradisional yang sudah dibawa dari dulu. Dulu… Indonesia dikenal sebagai negeri yang ramah. Yang mengatakan bahwa negeri kita ramah bukan hanya tetangga dekat atau tetangga jauh, orang-orang kita sendiripun merasa bangga akan hal itu karena merasakan hal tersebut.
Pada zaman itu, dimana orang tua menghargai anak muda dan anak muda sangat menghormati kaum tua. Timbal balik yang membuat harmonisasi hidup begitu damai, indah dan menyejukkan.
Sopan Santun adalah sikap terpuji yang harus dilakukan terhadap sesama manusia khususnya yang lebih tua. Saat ini sopan santun remaja terhadap yang lebih tua cenderung semakin menjauh dari kebudayaan sopan santun remaja terdahulu. Misalnya, saat berbicra terhadap orang tua menggunakan kata-kata yang tidak sopan, seringkali tak menganggap keberadaan orang tua di sekitarnya dan masih banyak lagi contoh yang lainnya. Banyak faktor yang menjadi penyebab lunturnya etika remaja saat ini.
Sopan Santun sangat dibutuhkan dalam penerapan kehidupan sehari hari. Mengapa penulis ingin membahas tentang perilaku remaja modern terhadap orang tua karena pada saat ini banyak ditemukan kasus-kasus dimana seorang anak sudah berlaku tidak sopan terhadap orang tuanya sendiri.

Dalam kehidupan modern ini perilaku anak tampaknya sekarang cenderung kehilangan etika dan sopan santun kepada orang tua. Berbagai kejadian buruk sering dilaporkan bahwa anak membentak orangtua atau anak kandung menyumpahi orangtuanya. Bahkan kejadian tragis sering terjadi anak memukul orangtua bahkan yang lebih miris anak membunuh orangtua.
Dalam budaya leluhur dahulu bahkan berjalan melewati orangtua saja harus membungkuk, membantah atau berkata keras saja sudah merupakan tindakan buruk. Memang, untuk hormat kepada orangtua tidak harus menyembah atau membungkuk terlalu dalam, tetapi paling tidak etika dan kesopanan terhadap orangtua harus tetap dijunjung tinggi.
Berbagai faktor dapat mempengaruhi hal ini. Paparan negatif media televisi, internet dan media elektronika lainnya ternyata dapat meningkatkan kekerasan dan agresifitas anak. Sikap lingkungan orangtua sendiri yang mengabaikan nilai edukasi dan sering mencontohkan kebohongan dan kekerasan baik verbal maupun non verbal berpengaruh pada perilaku anak. Komunikasi dan pembelajaran moral dan disiplin kepada anak sering menghadapi kesulitan karena anak sekarang jauh lebih berani dan kasar dalam bersikap.
Anak menjadi lebih kritis tapi sering tidak pada tempatnya serta lebih emosional. Anak-anak juga cenderung kurang menghargai teman, orangtua bahkan gurunya di sekolah. Beberapa orang tua sekarang juga mengalami kesulitan di rumah dalam mendidik anak-anaknya dalam hal tata krama dan menanamkan nilai kesantunan.Sifat dan perilaku yang ditunjukkan oleh anak seringkali dianggap cerminan dari bagaimana orang tuanya mendidiknya. Jika anak nakal dan tidak sopan, maka mungkin orang akan menyangka bahwa orang tuanya tak becus mendidiknya. Begitupula jika anak itu tumbuh sopan dan cerdas, orang tua bisa dibikin bangga olehnya.



ETIKA DAN SOPAN SANTUN KEPADA ORANGTUA
Etika dasar dalam berkomunikasi dengan orangtua harus diketahui dan dilakukan sejak dini. Sehingga diharapkan etika ini akan menjadi kebiasaan dan dibawa dalam pergaulan hingga dewasa nantinya.
Sikap dan perilaku yang sopan atau beretika terhadap orangtua adalah :
1.      Jangan pernah membantah, bila ada pendapat yang berbeda harus disampaikan dengan halus dan sopan.
2.      Bagaimanapun perasaan anak saat itu jangan pernah berteriak, membentak, bersuara dan bernada
keras dalam berbicara dengan orangtua.
3.      Pamit dan salaman sebelum bepergian atau setelah bepergian.
4.      Jangan sekalipun menyela saat orang tua sedang berbicara.
5.      Bila melihat orangtua sedang kesulitan seperti mengangkat beban berat, sedang mengerjakan pekerjaan berat lainnya tanpa diminta kita harus segera membantu.
6.      Bersikap hormat apapun keadaan emosi apapun
7.       Jangan pernah membantah, bila ada pendapat yang berbeda harus disampaikan dengan halus dan sopan, bukan dengan keras kepala.
8.      Bagaimanapun perasaan anak saat itu jangan pernah berteriak, membentak, bersuara dan bernada keras dalam berbicara dengan orangtua
9.      Pamit dan salaman sebelum bepergian atau setelah bepergian. Pamit dan mencium tangan orang tua sebelum berangkat ke sekolah adalah hal yang sudah wajar dilakukan. Kita menerapkan hal ini juga berdasar dari apa yang orang tua kita ajarkan sewaktu kita masih kecil dulu. Anda sudah pasti bisa merasakan dampak positif dari kebiasaan ini.
10.  Jangan pernah sekalipun memarahi orangtua, kalau ada yang dirasakan tidak benar pada orangtua harus disampaikan secara sopan.
11.  pernah mengajari, menasehati atau mengkuliahi orangtua. Bila ingin memberi masukan atau pendapat harus dengan sopan atau bila orangtua minta pendapat kita.
12.  Jangan sekalipun menyela pembicaraan orangtua
13.  Tatakrama lain adalah sikap sehari-hari harus menomor satukan atau mendahulukan orangtua untuk melakukan aktifitas seperti mendapatkan tempat duduk, memulai makan, memulai perjamuan minum.
14.  Jangan sekalipun menyentuh kepala orangtua bila sedang berhadapan atau berkomunikasi, kecuali untuk tindakan tertentu seperti memotong rambut.
15.   Bila berhadapan dan berbicara dengan orangtua harus dalam sikap sopan, jangan berkacak pinggang, jangan dengan kaki di atas kursi, jangan melotot, jangan dengan suara keras dan membentak.
16.   Bila melihat orangtua sedang kesulitan seperti mengangkat beban berat, sedang mengerjakan pekerjaan berat lainnya tanpa diminta kita harus segera membantu.

15 komentar:

  1. emang skrg bnyk bocah2 pd ura duwe rasa sopan kro wong tu...

    BalasHapus
  2. rasa sopan santun harus dijaga

    BalasHapus
  3. semoga kita bisa mengajarkan sopan santun pada murid-murid kita kelak....

    BalasHapus
  4. bersikap sopanlah kita kepada orang lain sehingga kita akan dihargai oleh mereka...

    BalasHapus
  5. baik buat tambah tambah ilmu.......

    BalasHapus
  6. sipp, agar kita lebih baik terhadap orang yang lebih dewasa.....

    BalasHapus
  7. anak sekarang jarang banget yg sopan sm orang tua

    BalasHapus
  8. harus sopan kepada semua orang, terutama orang yg lebih tua dari pada kita

    BalasHapus
  9. harus brsikap sopan kepada orang yang lebih dewasa......

    BalasHapus
  10. sangat membentu pembuatan angket ku.....thanks for ide. love it....

    BalasHapus